Mendidik Anak dengan Cinta (Part 1: Dasar Pemahaman)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh..

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari ini saya mendapat tugas untuk membuat tulisan bertema “Mendidik Anak dengan Cinta”.

Beberapa hal mendasar yang saya pahami terkait dengan tema tersebut diantaranya:

  1. Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya;
  2. Proses pembelajaran manusia harus dilakukan sejak dari buaian sampai ke liang lahat;
  3. Ada pepatah mengatakan: “It takes a village to raise a kid”. Mendidik anak perlu kerjasama yang baik antara semua pihak: keluarga, sekolah (formal maupun informal) dan masyarakat;
  4. Pendidikan harus meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam hal ini, anak perlu distimulasi dan diberi bekal yang seimbang antara ilmu intelektual (IQ), keterampilan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ)-nya.
  5. Anak adalah amanah (titipan) Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai ujian juga sumber kebahagiaan.
  6. Cinta itu: kasih sayang, peduli dan tulus. Cinta itu: kejujuran dan kebenaran. Cinta itu: memberi perhatian, penghargaan, keteladanan, batasan/aturan, dan konsekuensi. Cinta itu menerima, memaafkan dan mendo’akan.
  7. Dalam mendidik anak diperlukan cinta dan perhatian khusus agar anak menjadi shalih dan shalihah. Orang tua harus mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi manusia yang paripurna dan berakhlak mulia.

Sebelum saya berbagi tips dan trik serta pengalaman pribadi tentang upaya yang saya lakukan dalam menerapkan pendidikan anak dengan cinta (versi saya sendiri), saya telah melakukan riset kecil-kecilan (baca: googling 🙂 berkenaan dengan tema tulisan ini, yang saya rangkum sebagai berikut:

Mendidik anak dengan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara yang dicintai-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang di dalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

                                        الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

“Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” [HR.Muslim]

“Sesungguhnya Allah akan menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” [HR. Bukhari Muslim]

Renungkanlah, tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah?

Perhatikanlah hadist berikut ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال

“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, maka itu cintailah keduanya”(HR. Al-Bukhari).

Di dalam hadist yang agung di atas terdapat isyarat bahwa mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman,

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imraan: 31).

Contoh lainnya, Rasulullah pernah menyambut anak kecil yang baru masuk masjid dengan sambutan “marhaban”, dimana kata “marhaban” adalah sambutan untuk tamu yang diagungkan. Rasulullah ingin menunjukkan bahwa beliau sangat memuliakan dan mencintai anak kecil, karena mereka adalah tunas peradaban, generasi penerus yang nantinya diharapkan akan menjadi mujahid hebat.

Semoga kita semua dapat meneladani Rasulullah dengan mencintai anak-anak kita dan memberi pendidikan yang layak sebagai bekal kehidupannya di dunia dan akhirat kelak. Aamiin ya Robbal ‘alamiin.. 

Sumber-sumber referensi:

Ust. Said Abu Ukasyah. Diunduh pada: https://muslim.or.id/29129-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-4.html

Shodiq Ramadhan. Diunduh pada: http://www.suara-islam.com/read/keluarga/parenting/22316/-Psikolog-Mendidik-Anak-Harus-dengan-Cinta-

 

(to be continued..) 

Mendidik Anak dengan Cinta (Part 2: Tips dan Trik)

Mendidik Anak dengan Cinta (Part 3: Berbagi Pengalaman Pribadi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s