Mendidik Anak dengan Cinta (Part 2:  Tips dan Trik)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh..

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Kali ini saya akan melanjutkan tulisan saya sebelumnya, dengan tema “Mendidik Anak dengan Cinta (Part 1: Dasar Pemahaman)“.

Saya kembali mengingat satu dasar pemahaman bahwa anak adalah amanah (titipan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anak adalah sumber kebahagiaan sekaligus ujian. Hal ini diantaranya karena, selain anak dapat menjadi pelipur lara, pemberi semangat hidup dan penguat cinta keluarga, mendidik dan membesarkan anak juga akan menguras harta, energi dan emosi kita.

Setiap anak memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sama persis dengan orang lainnya, bahkan anak kembar sekalipun. Itulah mengapa, kita selaku orangtua (terutama ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya), perlu membekali diri dengan ilmu parenting (mendidik anak) yang mumpuni. Bagaimanapun situasi dan kondisinya (stay-at-home mom ataupun working-mom), kelak di akhirat kita akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah anak yang dititipkan kepada kita.

Sayangnya, ilmu parenting belum secara umum dapat kita temui di sekolah-sekolah formal, sehingga sebagai orangtua “baru”, mungkin kita hanya mengandalkan informasi dan pengalaman dari orangtua kita atau orang-orang sekitar yang sudah lebih dulu menjadi orangtua. Padahal, kebutuhan akan ilmu parenting meningkat pesat karena pola pendidikan anak berubah secara dramatis seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya teringat ada hadist yang secara garis besar mengatakan:

“Didiklah anakmu sesuai dengan perkembangan zaman..karena zamanku berbeda dengan zamanmu, dan zamanmu berbeda dengan zaman anak-anakmu”.

Saya menyadari bahwa di era globalisasi saat ini dan masa-masa ke depan, tantangan yang akan dihadapi anak-anak akan jauh lebih berat. Berita baiknya adalah, alhamdulillaaah  saya dipertemukan dengan Institut Ibu Profesional (IIP) yang InsyaAllah dapat memperluas wawasan saya dalam ilmu parenting 🙂

Kemarin saya menelusuri internet untuk memperkaya tulisan saya ini. Saya menemukan berbagai tips dan trik “mendidik anak dengan cinta” yang akan saya coba rangkum kembali disini. Oya, sebagai reminder, mari kita tengok kembali dasar pemahaman tentang definisi cinta itu sendiri.

Cinta adalah kasih sayang, peduli dan tulus. Cinta itu kejujuran dan kebenaran. Cinta itu memberi perhatian, penghargaan, keteladanan, batasan/aturan, dan konsekuensi/tanggung jawab. Cinta itu menerima, memaafkan dan mendo’akan.

Jadi, bagaimana caranya mendidik anak dengan cinta sesuai definisi tersebut?

  1. Kuatkan self-esteem anak. Ungkapkan bahwa kita mencintai anak kita (secara lisan/eksplisit dan melalui perbuatan/secara implisit), berikan perhatian dan motivasi penuh padanya dan berusahalah untuk dicintai olehnya. Hadirlah di waktu-waktu berharga anak, seperti saat ia sedih, sakit, juga saat unjuk prestasi/kemampuan. Salah satu pilar utama konsep diri yang baik adalah saat anak merasa dicintai dan diperhatikan oleh orangtua dan sekitarnya. Ketika anak telah menemukan cinta dalam hidupnya, maka proses pendidikan pun akan lebih mudah dan menyenangkan. Ilmu-ilmu baru akan masuk ke dalam memori jangka panjangnya dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Cinta dan kasih sayang yang berlimpah pun akan menjadikan anak memiliki pribadi yang positive thinking dan positive feeling.
  2. Buatlah prioritas dan tetapkan target pendidikan yang akan kita terapkan untuk anak-anak, namun berikan target yang realistis dan fleksibel untuk mereka.
  3. Pelajari kemampuan anak dan potensi yang dimilikinya, lalu bimbinglah anak untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Ajarkan anak untuk fokus, optimis dan pantang menyerah dalam mengerjakan apapun yang menjadi minat dan bakatnya sehingga ia dapat menjadi orang yang sukses dalam mencapai tujuan hidupnya di masa depan.
  4. Jadilah teladan yang baik dengan mencontohkan akhlak-akhlak terpuji, seperti jujur, bertanggung jawab, sopan santun, dan sebagainya. Misalnya, saat kita melakukan suatu kesalahan terhadap anak, atau tidak sengaja mengingkari janji untuk bermain bersama karena ada suatu pekerjaan mendesak, jujurlah mengakui kesalahan, minta maaf dan musyawarahkan konsekuensi apa yang dapat kita lakukan untuk menebus kesalahan tersebut. Hal ini agar anak pun melakukan yang sama saat berada di posisi kita. Saat kita meminta anak untuk membereskan mainannya, kita contohkan dengan membereskan barang kita sendiri. Anak harus dicontohkan, diberi kesempatan dan diyakinkan bahwa mereka mampu untuk belajar bertanggung jawab sejak dini terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat. Kalau semuanya dibebaskan, disediakan dan terlalu dimudahkan, kapan anak akan mendapat kesempatan untuk belajar? Padahal, nantinya anak yang bertanggung jawab akan tumbuh harga dirinya, lebih percaya diri, berprestasi, mandiri, dan mengerti konsekuensi.
  5. Berikanlah pujian/hadiah saat anak berhasil melakukan suatu kebaikan/prestasi. Tetapi di sisi lain, janganlah terlalu protektif dan selalu mentoleransi kesalahan anak. Kita perlu membiarkan anak menjalani konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya. Cinta kita terhadap anak janganlah membuat kita menjadi permisif (membolehkan semua hal) dengan dalih “namanya juga anak-anak”..karena jika begitu terus, kapan anak akan belajar tentang apa yang benar/boleh dilakukan dan salah/tidak boleh dilakukan?
  6. Ajarkan anak untuk menghadapi masalah dan mencari solusi, bukan menghindarinya. Sebagai contoh, jika anak menangis karena mainannya direbut temannya, jangan dialihkan dengan memberinya mainan lain. Tetapi idealnya, anak yang merebut mainan tersebut diharuskan untuk mengembalikan barang yang bukan haknya, sedangkan anak kita diajarkan untuk memaafkan dan mengajak bermain bersama-sama.
  7. Berikan anak pilihan dan batasan sedini mungkin. Proses pengambilan keputusan adalah momen yang sangat berharga. Contoh kecil, kita dapat mengajak anak untuk memilih sendiri menu sarapannya untuk besok, biarkan mereka memiliki kontrol atas hidupnya, dimulai dari hal-hal sederhana.
  8. Luangkan waktu untuk bermain dan belajar bersama anak di mana saja dan kapan saja ada kesempatan. Bacakan buku, karena buku adalah jendela dunia dan  membaca adalah kuncinya. Buku akan menstimulasi imajinasi yang tak terbatas pada anak.
  9. Belajarlah untuk berkomunikasi dengan lebih baik dan efektif, serta ciptakan suasana yang nyaman saat berkomunikasi. Lengkapi diri dengan ilmu yang memadai, siapkan mental, dan selalu sediakan waktu untuk berdiskusi/bertukar pendapat dengan anak. Saat anak merasa nyaman berkomunikasi dengan kita, maka mereka akan lebih terbuka, mudah diberi masukan dan juga akan memberikan kepercayaan penuh kepada kita. Manfaatkan teknologi komunikasi (ponsel pintar, media sosial, dan lainnya) untuk lebih mendekatkan hubungan anak dengan kita, bukan dengan orang lain di dunia maya.
  10. Tutuplah aib anak. Jangan pernah mengeluh atau menjelekkan anak khususnya di media sosial. Karena anak belajar dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Maka jika kita mengumbar aib anak, bukan tidak mungkin anak akan menirunya dan mengumbar aib kita di masa mendatang.
  11. Doakan anak, karena doa adalah sejatinya cinta. Selain itu, berdoa di depan anak bearti kita mengajarkan tauhid, bahwa sandaran permohonan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa juga merupakan wujud kepedulian dan memberitahukan harapan kita padanya.

Demikianlah tips dan trik yang dapat saya rangkum sejauh ini, sebagai salah satu pengingat bagi saya untuk menerapkannya dan semoga juga dapat bermanfaat bagi anda 🙂

 

Sumber-sumber referensi:

Ustadz Bendri Jaisyurrahman. Diunduh pada: http://mutmainnah-ideris.blogspot.co.id/2015/12/mendidik-anak-dengan-cinta-oleh-ustadz.html

http://mommiesdaily.com/2011/05/16/mendidik-anak-dengan-cinta-dan-logika/

https://wijayalabs.com/2011/06/10/rahasia-mendidik-anak-dengan-cinta/

http://blog.tuneeca.com/parenting-tips/mendidik-anak-dengan-cinta-dan-kasih-sayang/

 

(To be continued..)

Mendidik Anak dengan Cinta (Part 3:  Berbagi Pengalaman Pribadi)

 

Advertisements

3 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s