Mendidik Anak dengan Cinta (Part 3: Berbagi Pengalaman Pribadi)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh..
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillaah akhirnya saya sampai juga pada bagian terakhir dari “trilogi” tulisan saya 🙂

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi kisah dan pengalaman pribadi dalam menerapkan teori-teori terkait dasar pemahaman serta tips dan trik dalam mendidik anak dengan cinta. Sejauh mana saya telah mempraktekannya? Apa saja kendala yang saya hadapi dan bagaimana cara mengatasinya? Semoga tulisan ini dapat menjadi hal yang bermanfaat, terutama sebagai introspeksi bagi diri saya sendiri.

Saya menyadari bahwa mendidik anak memerlukan kerjasama yang baik antara semua pihak, dan proses pendidikan anak yang pertama ada di dalam keluarga. Saya dan suami pun memahami bahwa pendidikan harus meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam hal ini, anak perlu distimulasi dan diberi bekal yang seimbang antara ilmu intelektual (IQ), keterampilan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) sehingga dapat tercapai tujuan utama kami, yaitu memiliki anak yang shalih. Dalam arti, anak yang taat pada Allah dan Rasul-Nya, berakhlak mulia, cerdas dan sehat fisik dan psikologisnya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menguatkan self-esteem anak. Setiap saat, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan, saya selalu mengungkapkan bahwa saya mencintainya: “I love you, kaka..”; “kesayangan mami yang shalih”… Saya juga senang sekali memeluk dan menciumnya, mengASIhi dan menggendongnya, memasak MPASI dan menyuapinya, memandikannya, menemaninya bermain sambil belajar, membacakan buku, memperdengarkan murottal, dan segala aktivitas lainnya, termasuk mendampingi dan memberikan motivasi saat ia harus menjalani masa terberat dalam hidupnya yang baru 22 bulan: pembedahan (operasi). Saya akan berbagi pengalaman terkait hal ini pada artikel terpisah.

Alhamdulillaah..walaupun saya seorang working mom, pertumbuhan dan perkembangan anak saya insyaAllah sesuai dengan milestone usianya, dengan kepribadian yang menyenangkan, aktif, ceria dan cerewet 😀 . Ia pun relatif telah mengenal konsep waktu, sehingga saya tidak menghadapi masalah dalam pengaturan jadwal keseharian anak, mulai dari bangun tidur, mandi, makan, main, “belajar”, hingga tidur lagi. Ia mengerti kapan waktunya saya dan suami berangkat dan pulang kerja, juga kapan saatnya kami libur (akhir pekan) dimana ia dapat sepuasnya bermanja-manja pada kami.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu referensi saya dalam menetapkan target pendidikan bagi anak saya di rumah (home-education). Namun, konsep fleksibilitas tetap diutamakan, mengingat setiap anak memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda. Hal yang menjadi prioritas saya adalah penguatan kecerdasan spiritual terlebih dahulu, baru diikuti oleh kecerdasan emosional dan intelektual. Oleh karena itu, saya banyak berinvestasi pada buku, flash card, dan media pembelajaran audio visual terkait tema keislaman (aqidah, akhlak, fiqih, doa, dzikir, kisah para nabi dll), lalu dilengkapi dengan tema dasar-dasar ilmu pengetahuan (alfabet, angka, nama hewan, buah-buahan, bagian tubuh, alat transportasi, bentuk, warna, dan benda sekitar lainnya). Saya juga menstimulasi anak saya dengan berbagai aktifitas seperti berolahraga (berlari, bermain bola, berenang, dll); bermain tepung clay, balok dan puzzle, menggambar dan mewarnai (lebih tepatnya mencoret-coret :)), bernyanyi dan bercerita. Hingga saat ini saya masih menggali potensi dan mempelajari kemampuan yang dimiliki anak saya, agar ke depannya dapat membimbingnya untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Saya masih terus belajar untuk memberi contoh yang baik bagi anak saya, agar saya dapat menjadi teladan baginya. Adakalanya saya merasa bersalah karena belum bisa menjadi stay-at-home mom, belum bisa full time mendidik dan mendampingi anak saya di masa golden age nya. Maka, seringkali saya meminta maaf padanya, memberikan pengertian mengapa saya harus bekerja, meninggalkannya di rumah bersama pengasuh dari subuh hingga isya, bahkan terkadang saya harus lembur sehingga jam 10 malam baru sampai rumah. Selepas masa ASI Ekslusif, tugas dinas ke luar kota bahkan luar negeri pun tidak bisa saya hindari, namun di sisi lain, hal ini menjadikan saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih pada anak saya, karena ia dapat belajar sejak dini bahwa kita harus bertanggungjawab atas amanah yang kita emban, juga harus menjalani konsekuensi atas apapun pilihan hidup kita. Dan ternyata seorang anak itu cerdas, mom! Dengan komunikasi yang baik dan terjalin secara dua arah, anak saya telah mengerti bahwa sebagai pengganti dari quantity time yang berkurang, maka sedapat mungkin saya akan mengoptimalkan quality time bersamanya. Sebagian orang mungkin tidak sependapat dengan saya terkait hal ini, tapi percayalah, selalu ada alasan dan pertimbangan di balik setiap keputusan yang saya jalani. Hal positif lainnya adalah, anak saya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri di saat dia terpisah ruang dan waktu dengan saya. Tetapi saat saya ada di sampingnya, ia pun melepas rindu, lelah dan penatnya serta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bercerita, bercengkerama dan melakukan banyak hal dengan saya. Bisa dikatakan, saat kami bersama, ritme aktifitasnya menjadi: nenen-tidur-nenen-mandi-nenen-makan-nenen-main-nenen-repeat, hehehe..

Saya percaya bahwa sedari kecil, anak harus dicontohkan, diberi kesempatan dan diyakinkan bahwa mereka mampu untuk belajar bertanggung jawab terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat.

Saya dan suami sepakat menerapkan sistem reward (insentif) and punishment (disinsentif) dalam mendidik anak. Kami memberikan pujian dan hadiah saat anak berhasil melakukan suatu kebaikan/prestasi, tetapi kami memberikan peringatan dan “hukuman” yang mendidik, agar anak mengerti konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya. Dengan demikian, diharapkan anak akan belajar tentang apa yang benar/boleh dilakukan dan yang salah/tidak boleh dilakukan. Suatu hari, anak saya berhasil merapikan kembali mainannya (memasukkan balok ke dalam tas, menaruh buku di rak, mengembalikan pensil warna ke kotaknya). Pelukan, ciuman dan pujian dari kami sangatlah menyenangkan hatinya “horee..kaka pintar yaa sudah bisa merapikan mainan sendiri..” lalu ia pun tersenyum dan bertepuk tangan 😃. Saat anak kami berhasil melewati masa penyembuhan pasca operasi, kami pun memberikannya hadiah yang mampu membuatnya tertawa bahagia. Sebaliknya, saat ia melakukan kesalahan seperti terlalu lama bermain air sehingga badannya gemetaran, kami beri peringatan padanya “kaka kalau setelah ini sakit flu, rencana kita untuk berenang nanti hari minggu dibatalkan ya“. Maka kemudian anak kami berhenti bermain air, mandi, berganti pakaian lalu beralih ke pemainan lain. Nampaknya cara ini cukup berhasil, asalkan kita konsisten dalam menerapkan konsekuensi jika anak melanggar peraturan/batasan yang disepakati.

Mengajarkan anak untuk menghadapi masalah dan mencari solusi – bukan menghindarinya, adalah suatu tantangan tersendiri. Begitupun dalam mengajarkan anak untuk mengambil keputusan dan memiliki kontrol atas hidupnya, yang dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya saja, saat anak menangis karena mainannya direbut temannya, maka seringkali saya mengalihkan dengan memberinya mainan lain. Padahal idealnya, anak yang merebut mainan tersebut diharuskan untuk mengembalikan barang yang bukan haknya, sedangkan anak kita diajarkan untuk memaafkan dan mengajak bermain bersama-sama. Hal yang lucu adalah, sekarang jika anak saya sedang bermain dengan anak lain, ia selalu mengatakan “mainnya sama samaaa“..sambil dia memeluk mainannya dan sebenarnya tidak terlihat ada niat untuk berbagi, hehehe.. 😅

Saya menyadari bahwa butuh proses, waktu dan kesabaran agar kita dapat mempraktekkan teori-teori pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hal pembelajaran untuk proses pengambilan keputusan, sejak usia 1,5 tahun, anak saya sudah terbiasa diberikan pilihan, seperti: “kaka mau pakai baju yang mana?“. Ini dilakukan setiap ia selesai mandi, sambil dihadapkan pada tumpukan bajunya di lemari, lalu ia menunjuk pakaian yang disukainya. Selain itu, ia pun sudah dapat memilih menu makanannya lalu menyampaikan keinginan/request nya kepada kami, misalnya: “kaka mau sop ayaaam..jus buaaah..eskriiim“..dan sebagainya. Hanya saja kendalanya adalah ketika ia meminta menu yang kurang bergizi seperti makanan ringan atau fast food. Sehingga tugas kami untuk terus memberinya pemahaman bahwa kita perlu makanan yang bergizi seimbang (karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran serta buah-buahan), sedangkan makanan lainnya hanya bersifat selingan.

The last but not least, tentu saja saya selalu mendoakan anak saya agar menjadi anak yang shalih, cerdas spiritualnya, emosionalnya dan intelektualnya, sehat lahir/jasmani/fisik dan batin/rohani/psikologis-nya, diberkahi rejeki yang halal dan melimpah, selalu dalam lindungan dan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadi khalifah di bumi yang bermanfaat bagi semua makhluk-Nya. Aamiin ya Robbal Alamiin..

Wallahu alam bishawab,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuuh..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s