Adab Menuntut Ilmu: Manajemen Waktu di Universitas Kehidupan

“Pahami ADAB sebelum mendalami ILMU.

Pelajari ILMU sebelum melaksanakan AMAL.”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hari ini saya mendapat Nice HomeWork (NHW) yang pertama dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Hal pertama yang menjadi pertanyaan adalah: Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Setelah merenung cukup lama, saya akhirnya menetapkan satu ilmu yang perlu saya tekuni yaitu: Manajemen Waktu. Bagaimana tidak? Selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun, dan seterusnya sepanjang hidup ini, saya harus benar-benar menata diri agar dapat memanfaatkan waktu dengan cermat sehingga dapat secara optimal menjalani peran saya sebagai:

  1. Hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala (SWT), yang harus beriman dan bertaqwa kepada-Nya,
  2. Khalifah di dunia, yang harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat,
  3. Anak, yang harus berbakti kepada orangtua,
  4. Istri, yang harus taat kepada suami,
  5. Ibu, yang harus menjadi teladan dan madrasah utama bagi anak,
  6. Abdi negara, yang harus berkontribusi terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan,
  7. Bagian dari masyarakat (umat Muslim), yang harus dapat menebar manfaat bagi sesama makhluk Alloh SWT.

Secara garis besar, manajemen waktu diperlukan untuk dapat menunaikan hablu minallah dan hablu minannas secara seimbang.

Adapun tujuan manajemen waktu, ada tiga:

  1. Untuk Alloh SWT, yang menciptakan dan memberi rezeki (ibadah khusus, dzikir, doa, baca Qur’an, shaum, dll).
  2. Untuk diri sendiri (merawat dan menguatkan fisik, otak dan hati, belajar dan berlatih, muhasabah diri, dll).
  3. Berkarya untuk orang lain (Merawat orangtua dan anak, merapikan rumah, silaturahmi, program sosial, bekerja, dll)

Alloh SWT telah berfirman mengenai pentingnya manajemen waktu, dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Asr (103:1-3) yang artinya:

  1. Demi Masa (Waktu)!
  2. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
  3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, dan saling nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran.

Pertanyaan kedua dari NHW ini adalah: Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Jawaban saya: Karena waktu yang telah terlewati tidak akan pernah kembali, maka mulai saat ini saya ingin menguatkan tekad untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang akan semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT, membina keimanan dan ketaqwaan, mencari ilmu untuk meningkatkan amal saleh, menjalankan kehidupan secara islami dan berbagai aktivitas lainnya berdasarkan 7 peran yang saya jalani sebagaimana tersebut pada rincian di atas.

Terkait dengan hal ini, saya terinspirasi oleh ceramah Aa Gym tentang “waktu”, sebagai berikut:

Waktu adalah karunia yang sangat berharga,
betapa pentingnya waktu hingga Alloh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dalam Al-Qur’an: “Wal ‘Ashri (Demi waktu)”, “Wadh Dhuha (Demi waktu dhuha)”, “Wal Lail (Demi waktu malam)”.

Waktu demi waktu yang sudah kita jalani,
satu desah napas adalah satu langkah menuju kubur.

Waktu adalah modal yang sangat besar untuk hidup kita.
Setiap orang di dunia ini mendapatkan modal yang sama yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya.
Akan tetapi, mengapa kemudian ada orang yang sukses dan ada yang tertinggal, ada yang beruntung dan ada yang merugi?
Ada yang mampu menambah hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an, dan ada yang tetap saja, atau malah berkurang karena lupa.

Hal itu terjadi tiada lain adalah karena waktu yang dimiliki manusia itu sama, namun cara menggunakannya yang berbeda.
Ada yang menggunakannya sebaik mungkin, sebagai wujud rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan Alloh SWT.
Ada juga yang menggunakan waktu seenaknya saja, dan ini adalah wujud dari mengkufuri nikmat waktu.
Sedangkan barangsiapa yang mengkufuri nikmat Alloh, maka ia sama saja dengan mencelakai dirinya sendiri.

Alloh SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Sedangkan Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam (SAW) sudah mengingatkan kita dalam haditsnya, beliau bersabda:

“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, [5] Waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim).

Berdasarkan pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin akan beruntung baik di dunia maupun di akhirat.
Mengapa?
Bayangkan, jika dalam perlombaan balap sepeda, si X berhasil mengayuh dua putaran setiap detik, sedangkan si Y satu putaran setiap detik. Maka, dengan meyakinkan si X yang akan menjadi juara, karena pada detik yang sama ia dapat berbuat lebih banyak daripada si Y. Ini baru dalam urusan dunia.
Bayangkan juga, jika si X senantiasa menunaikan shalat di awal waktu, tidak ketinggalan menunaikan juga shalat sunnah dan tilawah. Ia juga menyempatkan diri menunaikan dhuha di waktu pagi dan tahajud di malam hari. Ia pun tetap bekerja dan beraktivitas normal sebagaimana manusia lainnya. Sedangkan si Y berleha-leha. Lebih banyak santai, belanja, nonton dan ngobrol tak karuan. Manakah yang akan beruntung di akhirat kelak? Tentulah si X.


Pertanyaan berikutnya yaitu: Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

Saya menyadari bahwa: gagal dalam membuat rencana, berarti merencanakan kegagalan. Maka, ada beberapa strategi yang saya tetapkan untuk menuntut ilmu manajemen waktu, yaitu:

  1. Mengumpulkan referensi seoptimal mungkin dari berbagai sumber yang valid.
  2. Mempraktekan teori dalam kehidupan nyata (learning by doing).

Untuk poin 1, sejauh ini saya telah merangkum kiat-kiat manajemen waktu secara efisien, efektif dan konsisten dalam rangka meningkatkan produktivitas hidup ala Aa Gym, sebagai berikut:

  • Mengingat mati. Karena kita hidup di dunia hanya sekejap, maka sudah seharusnya kita mengisi waktu dengan terus memperbaiki diri dan melakukan amalan yang terbaik sebagai bekal kehidupan akhirat.
  • Fastabiqul khairat. Berlomba dalam kebaikan dengan persiapan yang memadai untuk meraih prestasi, diiringi doa agar dapat amanah dalam menjalani hidup bermodalkan waktu yang diberikan oleh Alloh SWT.
  • Merencanakan hidup. Tentukan tujuan utama jangka panjang yang matang, teruji, rasional dan adil (dengan memohon pertolongan Alloh SWT agar dapat memenuhi hak-Nya, hak diri sendiri, hak keluarga dan hak orang lain), buat rangkaian rencana dan target jangka pendeknya (check list), beserta rencana alternatif (plan A, plan B, plan C, dst), lalu lakukan segera (tidak menunda/mengulur-ulur waktu) dengan disiplin, tertib dan teratur sehingga dapat mengefektifkan waktu, tenaga, emosi dan biaya.
  • Membiasakan pengaturan batas waktu untuk setiap aktivitas. Misalnya, tidur 6 jam, mandi 15 menit, membereskan kamar 10 menit, berjalan ke masjid 5 menit, salat Subuh dan lain-lain 30 menit, olah raga 20 menit, persiapan kerja 30 menit, sarapan dengan keluarga 15 menit, perjalanan ke tempat kerja 90 menit, dan seterusnya. Buat standar waktu yang layak dan wajar, lalu berlatih agar gesit dan tangkas dalam menjalankan setiap aktivitas.
  • Mengenali waktu produktif. Kita perlu memetakan, kapan waktu yang tepat untuk belajar, membaca, dan menghafal Al-Qur’an; kapan waktu produktif untuk bekerja, beres-beres rumah, olahraga, dll; kapan waktu produktif dengan keluarga, silaturahim dengan sesama, dst.
  • Membuat skala prioritas. Berdasarkan tingkat risikonya, maka urutan prioritas aktifitas kita dapat diklasifikasikan menjadi: (1) penting – mendesak; (2) tidak terlalu penting – mendesak; (3) penting – tidak mendesak; (4) tidak terlalu penting – tidak mendesak. Dalam hal ini, kita perlu terus berlatih untuk tegas dan disiplin dalam melaksanakan kegiatan berdasarkan prioritas tersebut.
  • Waspada dengan hal yang melalaikan: identifikasi kapan, di mana dan bagaimana kita membuang-buang waktu. Sebagai contoh: menonton televisi atau mendengarkan radio/musik yang tidak berujung; mengobrol atau melamun yang sia-sia; bermain ponsel dan internet yang tidak jelas niat dan tujuannya; melakukan keisengan, kesenangan atau hobi yang tidak berarti; jalan-jalan atau bekerja tanpa rencana; dan tidur berlebihan. Terkait hal ini, kita harus berani mengatakan ‘tidak’ terhadap pekerjaan atau ajakan yang dapat merusak manajemen waktu yang sudah dibangun agar kita bisa menggunakan waktu dengan jauh lebih produktif.

Untuk poin 2, saat ini saya masih terus belajar sambil mempraktekkan teori/kiat-kiat di atas, misalnya poin c (merencanakan hidup): tujuan utama saya hidup di dunia adalah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat, dalam hal ini secara spesifik saya ingin sekeluarga, sehidup sesyurga (aamiin). Adapun target jangka pendek saya untuk beberapa tahun ke depan diantaranya adalah: memperbanyak amalan sunnah di samping amalan wajib, memperbaiki pola makan (diet sehat) dan olahraga teratur, melanjutkan studi S3 di bidang ekonomi lingkungan, meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu dengan belajar ilmu parenting, juga melanjutkan pengabdian kepada orangtua, suami, serta bangsa dan negara.


Pertanyaan terakhir yang perlu saya jawab kali ini adalah: Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Secara umum, terdapat dua hal yang ingin saya tingkatkan dalam proses mencari ilmu yaitu:

  1. Bergegas dan mengutamakan waktu dalam menuntut ilmu, dalam artian tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk belajar seoptimal mungkin.
  2. Menuntaskan ilmu yang sedang dipelajari dan membuat catatan penting agar dapat menjadi acuan saat diperlukan penerapannya di kehidupan sehari-hari.

Secara spesifik bagi saya, mengatur pikiran untuk bekerja multi tasking adalah hal terpenting untuk dilatih. Selama ini saya termasuk tipe orang yang hanya bisa fokus terhadap satu aktifitas, untuk memastikan semuanya berjalan dengan sempurna dari awal hingga akhir, baru setelahnya saya dapat beralih ke aktifitas lainnya. Semoga dengan menuntut ilmu “Manajemen Waktu” di Universitas Kehidupan ini, I can make the most of my given time, and live my life to the fullest. Aamiin.

“Amalan yang didasari ilmu akan mendatangkan kemanfaatan. Ilmu yang diperoleh dengan taat adab akan mendatangkan keberkahan.”

Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

Sumber:

http://www.smstauhiid.com/ulama/aagym/mensyukuri-nikmat-waktu-aagym/

http://www.daaruttauhiid.org/artikel/read/inspirasi/590/melesat-dengan-manajemen-waktu.html

https://nasional.inilah.com/read/detail/2100993/tips-dan-motivasi-mengolah-dan-mengulik-waktu

http://shindawafu.blogspot.co.id/2014/11/ceramah-aa-gym-manajemen-waktu.html

http://mdianirawan.blogspot.co.id/2009/07/kiat-manajemen-waktu-aa-gym.html

https://firmanpratama.wordpress.com/2015/03/17/berhentilah-untuk-mengatur-waktu-mulailah-untuk-mengatur-diri/

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s