Membangun Peradaban dari Dalam Rumah: Mengenali Potensi, Memahami Misi dan Peran di Muka Bumi

Rumah adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana suami istri diberi amanah oleh Alloh SWT untuk membangunnya dengan cara mendidik anak-anak sesuai dengan kehendak DIA Sang Maha Pencipta.

DIA menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifik”. Kemudian kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga dan memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Tulisan ini adalah Nice HomeWork (NHW) yang ketiga dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Pertanyaannya cukup banyak dan menantang:

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Alloh, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.
  4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
  5. Setelah menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas, belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.

Baiklah saya mulai menjawab pertanyaan tersebut satu per satu.

Surat Cinta untuk Suami

Saya membuat surat ini dalam situasi terkendala oleh keterbatasan media komunikasi. Pada saat NHW ini dikerjakan, saya dan suami sedang menjalani Long Distance Marriage (LDM) hingga 3 minggu ke depan; saya di Bogor dan suami di pedalaman Kalimantan yang tidak terjangkau sinyal GSM, apalagi koneksi internet. Tetapi saya berusaha tetap mengirimkan surat secara bertahap melalui pesan singkat (SMS) dengan harapan dapat terkirim, dibaca dan dibalas/direspon saat suami kebetulan berada di lokasi yang terjangkau sinyal sebelum batas waktu pengumpulan NHW3 berakhir.

Sebenarnya membuat surat cinta itu “bukan gue banget“, karena saya tipe perempuan yang “serius”, bukan tipe yang “romantis”. Jadi, saya pun membuat surat cinta dalam Bahasa Inggris, agar tidak terlihat terlalu lebay, hehe.. Bahkan saya membuat pointers pada surat tersebut, just like a formal presentation :’)

Hal yang saya tekankan dalam surat tersebut adalah, bahwa saya bersyukur bisa membangun keluarga bersamanya. We are indeed totally different type of person, but we are a perfect match that can complete and support to each other. Ada 3 hal utama yang saya temukan sebagai “alasan kuat” mengapa dia layak menjadi suami dan ayah, yaitu:

  1. He is a “right-brained” person (creative, sociable). Suami saya dapat melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang yang berbeda dengan saya, lebih “eagle view” alias melihat “gambar besar”nya. Hal itu memperkaya dan meluaskan pilihan kami dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Ia pun cenderung lebih santai, humoris, dan mudah berinteraksi dengan orang lain (kepribadian korelis-sanguinis).
  2. He is an encouraging person (understanding, supportive). Suami saya sangat mendukung dan memberikan kebebasan terhadap apapun aktivitas saya, sebagai ibu, sebagai ASN di salah satu Kementerian, juga sebagai pembelajar.
  3. He is a true “fighter” (never give up on me and our family). Suami saya seorang yang dapat diandalkan dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga, memenuhi nafkah lahir dan batin bagi istri dan anaknya.

To be honest, masih banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada suami, namun karena keterbatasan media komunikasi, maka saya mencukupkan surat saya dalam 5x pengiriman SMS saja dengan cuplikan sebagai berikut:

 

PhotoGrid_1518169170088

Alhamdulillah, setelah menunggu beberapa hari akhirnya suami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke daerah yang terjangkau sinyal, sehingga surat saya dapat diterima dan inilah cuplikan respon darinya:

respon aa

Secara garis besar, respon dari suami terhadap surat saya adalah: he feels the same as me. Despite our differences, we are a perfect partner. Bahkan he said, “you are the best!” (jadi Ge-eR, hehe).

Potensi Kekuatan Anak

Saya baru memiliki satu anak laki-laki yang berusia tepat 2 tahun pada tanggal 11 Februari ini, panggilannya Kaka. Saya bersyukur diberi kepercayaan oleh Alloh SWT untuk menjadi ibunya. Anak adalah amanah, dan saya InsyaAlloh akan menjaganya sebaik-baiknya dalam situasi dan kondisi apapun (suka dan duka/tangis dan tawa).

Kaka adalah anak yang hebat dan istimewa. Ia kuat, sehat, cerdas dan menyenangkan. Kami menyadari bahwa Alloh SWT menghadirkan Kaka di keluarga kami, diantaranya sebagai:

  1. Perekat hubungan keluarga saya dan suami, karena Kaka adalah sosok yang adorable. Sebetulnya tidak hanya keluarga, tapi semua orang yang pernah mengenalnya menyatakan hal yang sama.
  2. Sumber kebahagiaan kami, dengan kepribadiannya yang murah senyum dan ceria.
  3. Perantara dalam ujian kesabaran dan kekuatan cinta kami. Salah satunya, saat saya menghadapi dilema working-mom yang ingin tetap memenuhi hak anak atas ASI Ekslusif, akhirnya dengan berbagai daya dan upaya, alhamdulillah Kaka masih minum ASI sampai saat ini. Selain itu, saat kami dihadapkan pada kenyataan bahwa Kaka harus mengalami Operasi UDT pada usianya yang baru 20 bulan, he made us amazed that he was recovering really fast, dan sekarang ia dalam kondisi sehat wal’afiat, tidak kurang satu apapun. Alhamdulillaahirobbil’alamiin..  

Jika merujuk standar perkembangan anak menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 137 Tahun 2014, tingkat pencapaian perkembangan Kaka relatif di atas standar/rata-rata anak seusianya, baik dalam aspek Nilai Agama dan Moral, Fisik-Motorik, Kognitif, Bahasa, Sosial-Emosional, juga Seni.

Secara spesifik, dilihat dari peminatan/bakatnya, Kaka memiliki potensi lebih besar di bidang Bahasa dan Seni, karena dia lebih tertarik belajar huruf dibandingkan angka, senang membaca buku dan flash card, bisa berkomunikasi dua arah, bercerita sambil melakukan pretend play, juga senang dengan musik dan berjoget. Beberapa waktu lalu, dia pura-pura membaca selembar kertas lalu bercerita kepada saya dan suami: “kalaau..jalan-jalan…kalauu…lari-lari…kan repot..ya, papi? kalauu..jalan-jalan, jatuh, ceu Yayah (ART) maraah..” Tentu saja kami spontan tertawa mendengar ocehan Kaka, sekaligus gemes karena seolah-olah dia sedang curhat 😀 Apalagi setelah itu dia melakukan gerakan mengangkat kedua tangannya ke atas, sambil berkata: “Semangat!” Lalu ia pun berjoget menggoyang-goyangkan badannya. Hahahaha.. Seketika kami bertiga pun tertawa bersama-sama.

Untuk memfasilitasi kemampuan Bahasanya, insyaAlloh saya akan menyusun kurikulum home-education dengan menitikberatkan pada aktivitas/stimulasi yang memperkaya perbendaharaan kata, mengasah kemampuan komunikasinya agar lebih terstruktur, juga keterampilannya berbicara di depan umum (public speaking). Semoga kemampuan verbal Kaka bisa bermanfaat untuk umat. Aamiin..

Potensi Kaka yang lainnya diantaranya:

  1. Observer: tingkat couriousity-nya tinggi sekali, sehingga dia senang mengamati hal-hal di sekelilingnya.
  2. Fast Learner: mudah menangkap apa yang diajarkan/cepat mengerti jika diberi penjelasan/jawaban atas rasa ingin tahu-nya. Maka, saya InsyaAlloh akan terus memupuk rasa ingin tahu-nya, dengan terus mengenalkan dan mengajarkan hal-hal baru kepadanya. Mainan favorit Kaka adalah alat transportasi berat (heavy machinery), sehingga InsyaAlloh kurikulum home-education yang saya buat untuk Kaka akan dikaitkan dengan mainan favoritnya tersebut, agar proses belajar lebih menyenangkan baginya.
  3. Good Emotional Management: jarang tantrum, bisa diajak bernegosiasi dan mengungkapkan perasaannya. Dalam hal ini, saya juga InsyaAlloh akan terus mengasah kemampuan berpikirnya, serta memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan, dimulai dari hal-hal sederhana dalam hidupnya, sehingga ia akan tumbuh menjadi anak yang open minded, percaya diri dan mandiri.

Potensi Kekuatan Pribadi

  1. Bertolak belakang dengan suami saya yang termasuk tipe “right-brained person”, saya adalah left-brained person dengan kecenderungan berpikir rasional (logis), terorganisasi (sistematis) dan realistis. Kekuatan terbesar saya ada pada perhatian terhadap hal-hal spesifik/detil (kepribadian melankolis). Sepertinya itulah mengapa Alloh mempertemukan dan menjodohkan saya dengan suami: to complete each other. Harapannya, dengan mengkolaborasikan kekuatan kami masing-masing, maka kami dapat membangun peradaban dengan pondasi yang kokoh dari dalam rumah. Anak kami akan dapat pembelajaran yang lengkap dari kami, untuk mengoptimalkan kecerdasan otak kanan dan kirinya. MasyaAlloh.. AllohuAkbar!
  2. Suami saya mengatakan bahwa saya seorang yang multi-talented. Di rumah, saya dapat berperan sebagai guru, suster, koki, manajer keuangan, bahkan menjadi sosok “ayah” saat suami sedang bertugas ke luar kota. Di kantor, saya dapat berperan sebagai penganalisis di bidang industri dan perdagangan internasional, ekonomi lingkungan dan perubahan iklim, serta terlibat dalam Global Environmental Facility. Secara khusus, saya bersyukur bahwa saya diberikan kelebihan oleh Alloh SWT pada aspek kognitif yang rupanya menjadi hal utama yang membuat suami saya jatuh cinta pada saya hehehe… Alhamdulillah, sejak sekolah hingga lulus S2, saya selalu berprestasi di bidang akademik. Semoga semuanya dapat bermanfaat sebagai bekal saya mendidik anak saya. Aamiin..
  3. Saya seorang life learner. Saya senang belajar, berpikir, dan menganalisis. Oleh karena itu, saya bercita-cita untuk melanjutkan studi ke jenjang S3, dan suami serta keluarga besar sangat mendukung hal ini. Kami percaya, seorang ibu haruslah berpendidikan setinggi yang ia mampu, karena ia adalah madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  4. Saya termasuk perempuan yang independent (mandiri), sehingga suami percaya bahwa saya dapat meng-handle segala urusan rumah tangga, terutama saat kami menjalani LDM seperti saat ini.

All in all, saya sangat bersyukur atas kehadiran suami dan anak dalam kehidupan saya. Dengan kondisi saya bekerja, suami bekerja, anak saya di rumah dengan ART, kami hidup merantau, tinggal di rumah yang masih statusnya menyewa dan lokasinya jauh dari kantor (perjalanan PP 4 jam setiap hari) …. tetapi kami bahagia. We’re a great team! Segala keterbatasan tidak menghalangi kami untuk membangun peradaban dari dalam rumah, InsyaAlloh.

Lingkungan Tempat Tinggal

Kami tinggal di komplek perumahan yang rata-rata karakteristik penghuninya mirip dengan kami: keluarga muda dengan 1-2 anak, suami istri bekerja di luar rumah, berangkat Subuh pulang Isya pada weekdays, menitipkan anak pada ART dan satpam komplek, sehingga antar tetangga baru dapat saling berinteraksi pada weekends, itupun sangat jarang, karena kami biasanya memiliki agenda/kegiatan dengan keluarga masing-masing. Sepertinya itulah alasan mengapa kami berada di sini: karena “senasib” atau relatif berada pada “arena perjuangan yang sama”.

Hal yang menjadi tantangan bagi saya adalah dalam upaya menjalin silaturahmi dengan tetangga. Saya ingat ketika kemarin saya dan Kaka berkunjung ke tetangga (sekitar 10 rumah yang terdekat) untuk mengantarkan souvenir kenang-kenangan milad Kaka yang ke-2. Hanya penghuni 2 rumah yang sudah akrab dengan kami, yaitu keluarga kakaknya suami saya dan teman kantor suami saya. Selebihnya, hampir semuanya menanyakan, “ibu dari blok mana?rumah yang nomor berapa?”. Sedih rasanya, karena pada dasarnya tetangga adalah keluarga yang terdekat, tetapi kami masih punya PR besar untuk mempererat silaturahmi dengan mereka. Namun kami juga belum tahu ke depannya apakah akan tetap tinggal di lingkungan ini atau akan pindah ke tempat lain yang lebih dekat dari lokasi kantor.

Saya percaya ada hikmah di balik setiap peristiwa. Ada makna di balik keberadaan saya di lingkungan ini. Semoga saya dapat segera menemukannya.

Belajar Memahami Peran Spesifik Keluarga

Saya masih terus mencoba memahami apa pesan rahasia Alloh terhadap peran spesifik keluarga kami di muka bumi ini. Belum sepenuhnya terasa jelas, tapi satu hal yang saya sadari, bahwa: hidup adalah perjuangan dan pengabdian, yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan, kesabaran dan tanggung jawab, karena dunia adalah tempat mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju keabadian di akhirat. Maka dari itu, keluarga kami akan terus berjuang untuk mewujudkan visi “sekeluarga, sehidup sesyurga”.

Keluarga kami sedang tumbuh dan akan saling menginspirasi dengan keluarga lain. Peran spesifik keluarga kami sedang dibangun secara perlahan tapi pasti, melalui proses pendidikan anak, berkarya dan bekerja sesuai potensi diri kami masing-masing, yang seiring dan selaras dengan harmoni kehidupan.

Quote ini sepertinya yang paling cocok untuk menggambarkan positioning keluarga kami saat ini:

Kami mungkin belum bisa membahagiakan orang lain, tetapi kami berupaya untuk tidak menambah beban/duka mereka.

Demikianlah curhat panjang saya kali ini, semoga bermanfaat bagi diri saya sendiri dan mudah-mudahan dapat menginspirasi pembaca.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuuh..

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s