October Challenge: Toilet Training

Bismillah..
Welcome October!

Bulan ini perkuliahan Bunda Sayang IIP memasuki Level 2, dgn tema “Melatih Kemandirian Anak”.
Dan tantangan 10 hari utk Game Level 2 ini menarik sekali πŸ˜ŠπŸ‘

  1. Buat list kemampuan kemandirian yg ingin dilatih (minimal 1, maksimal 4)
  2. Buat program One Week One Skill (periode 1 bulan)
  3. Dokumentasikan proses latihan kemandirian (minimal 10 hari)

Background Study

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Merujuk materi perkuliahan Bunsay IIP, kemandirian erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningkatkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian juga erat kaitannya dengan jiwa merdeka, karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur. Jika mengingat sejarah, bukankah Rasulullah, Manusia Terbaik dan Panutan kaum Muslimin, adalah seorang enterpreneur? Maka tentu saja, saya sebagai orangtua, ingin anak saya dapat meneladani Sang Kekasih Alloh semenjak dini. Terlebih lagi, melatih kemandirian membuat anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kemandirian perlu mulai dilatihkan kepada anak sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi (usia 0-12 bulan).

Tolok ukur kemandirian anak usia 1-3 tahun yaitu: anak berlatih mengontrol dirinya sendiri.

Maka dari itu, sudah saatnya kita melatih anak untuk bisa setahap demi setahap menyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri. Contohnya: Toilet Training, Makan sendiri, Berpakaian sendiri, dan Berbicara (tidak merengek/berteriak/menangis) jika memerlukan sesuatu.

Sebagai orangtua, kita harus mendampingiΒ anak dengan ekstra sabar dalam proses latihan kemandirian ini (tidak membiarkannya berlatih sendiri, terutama dalam kurun waktu 6 bulan pertama yg biasanya penuh dengan tantangan yg luar biasa). Kita juga perlu komitmen dan konsisten dengan aturan yg kita buat, contohnya: “Di rumah iniΒ hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya“. Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila meminta sesuatu dengan menangis dan berteriak. Lalu, mengapa ada kalimat “di rumah ini”? Ya..simply karena kita belum memungkinkan membuat aturan utk diterapkan di rumah org lain, hehe. Kan setiap rumahtangga punya aturan/tata nilainya masing2. Contoh lain misalnya: “Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudah tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain“. Maka tempatkanlah mainan dalam tempat yang mudah diambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus, bermainlah bersamanya, dan jalankan aturan bersama-sama.

Dalam melatih kemandirian anak, orangtua mutlak perlu memiliki Konsistensi; Motivasi; dan Teladan.

Bentuk dukungan untuk melatih kemandirian anak diantaranya: rumah harus didesain “ramah anak”; buat aturan bersama anak (disepakati kedua belah pihak); konsisten dalam menerapkan aturan; kenalkan risiko pada anak; berikan tanggung jawab sesuai usia anak.

Karena kita tidak akan selamanya bisa bersama/mendampingi anak-anak, maka melatih kemandiriannya adalah sebuah keniscayaan dan pilihan hidup bagi keluarga kita.

Study Objectives

Setelah memahami materi di atas, saya memutuskan untuk berfokus pada 2 kemampuan kemandirian yg akan dilatihkan pada kaka selama bulan Oktober ini, yaitu:

  1. Toilet Training (pekan pertama dan kedua)
  2. Berpakaian sendiri (pekan ketiga dan keempat)

Bismillah..saya semangat sekali utk mempraktekkan materi ini, yg merupakan lanjutan dari Tantangan Game Level 1 bulan lalu bertema Komunikasi Produktif. Seperti telah saya ceritakan pada postingan sebelumnya, Toilet Training (TT) adalah PR bagi saya yg sudah beberapa bulan terakhir belum dapat terselesaikan karena satu dan lain hal. Game Level 2 kali ini menjadi trigger bagi saya untuk berkomitmen menerapkan latihan kemandirian bagi kaka dalam hal TT secara konsisten.

Preliminary Practice

Sebetulnya, perangkat pendukung untuk TT sudah saya siapkan sejak lama, diantaranya: training pants, perlak, sprei waterproof, potty dan alas tambahan yg empuk untuk kaka pup di kloset duduk. Sejak kemarin, saya terus sounding pada kaka tentang pentingnya TT, juga mengenalkan risiko jika tidak berhasil TT. Hal ini saya lakukan sebagai upaya untuk membuat “aturan”/kerangka berpikir yg logisΒ dan dapat disepakati bersama antara saya dan kaka.

M: “Kak, nanti kalo mau pipis atau ee, bilang sama mami atau ceuceu ya, sayang..”.
K: “Iya mami..”.
M: “Jadi, kaka pipis atau ee nya langsung di kamar mandi ya. Kan biar racun2 dan kuman2 yg keluar dari tubuh kaka, langsung kebuang, ngalirΒ  wuz wuzz ke selokan”

Saya diam sejenak. Mengamati ekspresi kaka saat itu yg seperti sedang membayangkan ilustrasi yg saya buat. Lalu saya melanjutkan,

“Kalo kaka pipis atau ee nya di pampers, itu kuman2nya nempel dulu disana kak..bisa2 kaka jd gatal2 kyk waktu itu inget gak?pas kaka telat ganti pampers terus merah2 pantatnya loh”
K: “Iya mami..gatal! Jadi kalo pipis di kamay mandi ya mami?”
M: “Iya sayang..nah sekarang kaka pipis dulu yuk ditemenin sama mami ke kamar mandi. Kalo pipis disana kan enak, langsung bisa dibersihin semuanya. Dadah kumaaan”

Kami pun lalu ke kamar mandi, kaka pipis, bersih2, gosok gigi, cuci muka, cuci kaki dan ganti baju tidur. Malam tadi kaka tidur tidak memakai pampers, tetapi memakai training pants. Alhamdulillah celananya kering sampai jam 4 pagi. Walaupun kemudian pada saat subuh ia mengompol dan terbangun karena celananya basah, tetapi saya bersyukur karena malam tadi adalah pertama kalinya kaka tidur tanpa pampers!

I just want to say:
“Good job kak! Mommy is so proud of you 😘😘😘 Gak apa2 ya subuh kebangun karena celana basah, jadinya sekalian mandi, bersih2 terus sholat bareng mami.”

Yeaay.. I am so happy! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ (walaupun kemudian harus langsung cuci baju dan kain alas perlak yg kena pipis, supaya ga nempel baunya hehe). It doesn’t matter lah..pokoknya tetap jaga motivasi demi kemandirian kaka πŸ’ͺ😁

(Referensi: Materi Perkuliahan Bunda Sayang, IIP)

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s